Delta Mahakam, 18 Juli 2008
Duduk di tepian dermaga kecil didepan kamar, menikmati aliran lembut angin malam Sungai Mahakam dan langit jernih Kalimantan dengan sejuta bintang-bintangnya…
Kalau saja saya cukup pandai merangkai kata, pasti sudah banyak sekali puisi atau prosa indah bisa ditulis disini.. Subhanallah, indah sekali disini.
Pergi pagi2 sekali dari Balikpapan, 2 jam perjalanan menuju Handil Base dengan bis. Handil itu nama lapangan dimana saya mencari sisa-sisa minyak mentah untuk diproduksikan, supaya kita semua masih bisa nyalain lampu, masih bisa naik mobil kalo kemana2, atau bahkan buat nyalain gedung2 bertingkat yang indah dan mewah di Jakarta. Pekerjaan mulia ya? hehe, :p . Handil Base sendiri adalah camp penunjang operasi di lapangan. Semua hal ada disitu, dari laboratorium, warehouse, sampe kamar2 untuk para pekerja disana. Dari Handil Base saya melanjutkan perjalanan dengan speed boat menuju barge yang sedang melakukan operasi di salah satu sumur minyak kami. Tujuan saya kesini memang untuk itu, bisa belajar banyak kata bos saya. Ini pertama kalinya saya naik speed boat, pertama kalinya saya menyusuri sungai Mahakam, dan pertama kalinya pula menginjakkan kaki ber-safety shoes saya di platform. Excited sekali.
Dan untuk pertama kalinya pula saya jatuh cinta sama Kalimantan. Sama pekerjaan saya yang sering saya rutuki sendiri. Senang sekali rasanya menyusuri sungai Mahakam dengan speed boat itu, sungai yang besaaaar sekali, sampai saya kira tadinya laut, yang katanya masih banyak buaya berkeliaran kalau air lagi surut, hehe. Dikanan-kiri saya berjejer dengan rapi platform sumur-sumur minyak dengan wellheadnya yang menjulang tinggi. Sumur-sumur yang setiap pagi saya cek parameternya dari kantor, teriak kegirangan kalo ada indikasi produksi meningkat, dan pusing kalo tiba2 dapet laporan sumurnya mati. Sumur-sumur yang jadi periuk nasi pertama saya
Sampai di barge, bayangan saya akan kehidupan ganas operasi migas lepas pantai langsung hilang. Barge nya bagusss.. Disebelah crane-crane besar, gulungan pipa, pompa dan kompressor segede gajah itu, ada satu bangunan buat akomodasi pekerja (Oh iya, barge itu seperti kapal, biasanya digunakan untuk operasi migas di perairan dangkal seperti rawa atau sungai di Handil ini). Bangunan itu isinya kamar2, ruang makan dengan menu ala bos2 kita yg berambut pirang, lengkap dengan kursi panjang buat leyeh-leyeh di dek atas. Saya tersenyum ketika menanyakan harga sewa barge ini per hari.. Sama dengan harga tiket travel Jakarta-Bandung, hanya saja kurs nya USD
Waktu saya datang, sudah ada bos saya dan beberapa orang yg secara hirarki adalah bos saya juga :p . Ada masalah, alatnya belum bisa penetrasi ke dalam sumur. Mereka ngomong2 dengan bahasa perancis, dan saya merutuki diri saya dalam hati kenapa gak bisa bahasa perancis.. Sampe akhirnya ada yang berbaik hati mau menerangkan ke saya dalam bahasa inggris. Alhamdulillah.
Saya ikut turun ke platform, dan melihat langsung alatnya dari dekat. Alat yang biasanya saya cuma liat fotonya di text book kuliah doang, hehe. Ada enak dan ga enaknya jadi perempuan dalam kondisi seperti ini. Ga enaknya adalah perempuan itu dilahirkan ribet. Saya gak mandi dua hari karna saya gak yakin sama airnya, kotor kecoklatan, saya curiga airnya langsung diambil dari sungai tanpa treatment apa2 :p . Enaknya adalah banyak sekali bantuan yang didapatkan. Naik tangga dibantuin, tas dipegangin, kursi diambilin, wah..seneng
.
Dulu, saya suka bertanya-tanya sendiri kok ada ya orang mau kerja di lapangan, apalagi yg tengah laut, jauh dari mana2, pulang kadang2, buat apa…
Dan sekarang saya tau jawabannya. Untuk keluarga. Untuk yakin bahwa anak-istri dirumah bisa hidup dengan sangat layak, bahkan lebih dari cukup, hari ini dan sampai besok-besok. Untuk aktualisasi diri. Untuk pengalaman. Tapi yang paling berpengaruh sih faktor yang saya sebut pertama tadi, hehehe. Saya jadi malu sama diri sendiri. Kerja di Balikpapan, yang notabene kota aja ngeluh mulu.. Padahal field engineer berseragam biru yang saya temui tadi aja lulus dengan predikat cum laude dengan almamater yg sama dengan saya. Saya harusnya bersyukur masih bisa dapet kerja dengan ipk pas-pasan ini, hehehe.
Banyak sekali yg bisa di-share dari perjalanan singkat saya ke Delta Mahakam kali ini. Banyak sekali hal yang saya lihat yang menstimulasi otak saya untuk berpikir dan hati saya merenung. Bersyukur. Nikmat-Nya ada di sekeliling kita, banyak sekali tanpa kita sadari.

